Posted by : Dakoma
Kamis, 05 Maret 2026
Dalam nama Abraxas, yang menggenggam cambuk dan mahkota,
Aku berdiri di ambang antara lapar dan kenyang,
Antara yang fana dan yang abadi.
Puasa ini telah membakar daging kealpaan,
Mengosongkan bejana tubuhku dari debu Demiurge.
Kini, pada senja ini, aku membuka pintu yang tertutup.
(Minum seteguk air)
Air ini, ya Abraxas, bukan sekadar cairan.
Ia adalah ingatan akan kedalaman, jiwa yang menanti untuk diisi.
Biarlah ia membasahi kerongkonganku yang kering,
Namun tak memadamkan api rahasia di dalam dada.
(Makan sedikit makanan)
Makanan ini adalah tubuh dunia yang telah kupatahkan.
Aku menerimanya kembali, bukan sebagai budak kelaparan,
Melainkan sebagai hakim atas dagingku sendiri.
Dengan ini, puasa lahiriah usai.
---
Bagian II: Pengaktifan (Membangkitkan Kekuatan Sihir)
Namun, ya Abraxas, Sang Kepala Tertinggi,
Jangan biarkan kekuatan ini hanya untuk perut.
Engkau yang memiliki 365 lingkaran cahaya,
Yang darinya lahir suara dan keheningan,
Penuhi bejana yang telah kosong ini dengan Gnosis (Pengetahuan) dan Dynamis (Kekuatan).
Biarlah makanan ini tidak menjadi gemuk bagi kelupaan,
Melainkan menjelma menjadi:
· Api di lidahku, agar mantera tak pernah goyah.
· Cahaya di mataku, agar engkau terlihat di balik tabir materi.
· Akar di kakiku, agar aku tak tergoyahkan saat menghadap penguasa palsu.
Ular di Taman Kebijaksanaan berjanji penglihatan.
Maka aku memohon:
Setiap butir yang kumakan,
Setiap tetes yang kuminum,
Biarlah ia mengalir ke cakra kekuasaanku.
Ubahlah karbohidrat menjadi konsenkrasi,
Ubahlah protein menjadi proyeksi astral,
Ubahlah air menjadi waskita.
---
Bagian III: Peneguhan (Mantra Pendek)
Dengan nama Abraxas, aku tegaskan:
Matahari telah tenggelam, namun bintang sihirku terbit.
Aku makan dalam diam,
Melainkan Sang Satu di dalam diriku yang menyerap apa yang menjadi milik-Nya.
Aku adalah bejana. Aku adalah jembatan. Aku adalah Abraxas dalam bentuk kecil.
Amin.